Konflik Tanah Di Urut Sewu Kebumen

Konflik Urut Sewu kian memanas dengan hadirnya TNI yang akan melakukan latihan dan uji coba senjata miriam dari Korea di Pantai Setrojenar pada 10 April 2011 lalu. Untuk menggagalkan rencana uji coba senjata, masyarakat memblokade akses jalan menuju Dislitbang TNI AD dengan batang-batang pohon. Negosiasi yang dilakukan tidak menghasilkan kesepakatan karena TNI bersih keras untuk melakukan uji coba senjata. Namun akhirnya latihan dan uji coba senjata ditunda.

Belum genap seminggu, TNI kembali berniat melakukan uji coba senjata di wilayah Ambal. Rencana ini sontak mengagetkan masyarakat mengingat negosiasi di rumah dinas bupati tidak bisa menghasilkan keputusan yang disepakati kedua belah pihak. Masyarakat kembali melakukan upaya untuk menghentikan uji coba senjata. Jalan masuk ke wilayah latihan diblokade oleh warga sejak Jumat malam.

Sengketa tanah

Jika dicermati, konflik ini mengakar pada penguasaan tanah di wilayah Urut sewu. TNI mengakui memiliki lahan sepanjang 500 meter dari bibir pantai di wilayah Urut Sewu. Pengakuan ini juga diamini dalam rencana tata ruang wilayah Kebumen yang kini masih digodog oleh DPRD kebumen. Namun, hingga saat ini TNI belum bisa menunjukkan bukti kepemilikan legal atas tanah tersebut. Disisi lain, masyarakat menolak pengakuan tanah TNI sepanjang 500 meter dari bibir pantai. Di Urut sewu hanya ada tanah negara sepanjang ±200 hingga 250 meter dari bibir pantai. Sedangkan dari batas itu ke utara, tanah tersebut adalah tanah bersertifikat dan dikenai pajak. Selain itu, masyarakat juga memiliki saksi sejarah yang mengetahui tentang keberadaan tanah di Urut sewu. … continue reading this entry.

“..Pergi Bersama Senyumanmu..”

“Sudahlah, tak perlu kau mengelak dari semua kenyataan ini. terima saja bahwa aku kini menguasai hatimu”, aku mengatakan padamu bersama rintik hujan yang membasahi bajumu.

Tapi kau tetap saja bergeming. Lebih memilih diam dan mengatupkan bibirmu rapat-rapat, berharap takkan ada udara segar menyelinap. Aku melihat tanganmu mengepal dan mengeras. Aku tahu kau ingin meninju. Aku tahu kau ingin meledakkan amarahmu. Tapi tidak! Kau tak melakukannya. Dan lagi-lagi kau coba mengingkari perasaanmu. Menahan semuanya dan menganggap semuanya berjalan dengan baik.

“Aku membencimu. Kau membuat hariku yang awalnya tenang menjadi berantakan. Aku benci keberadaanmu”, begitu kau berucap setelah lama terdiam. “lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga”, lanjutmu seraya menatap langit yang tertutup mendung tebal. Menengadahkan wajahmu pada sang langit hingga tetesan hujan mengalir melalui hidung dan pipimu. … continue reading this entry.

Bersama Mereka Kunikmati Dunia

Dunia anak-anak memang penuh keceriaan. Lihatlah anak-anak yang bermain di timezone, menghabiskan koin demi koin untuk bermain dan tertawa gembira di tengah hingar bingar kemewahan. Lihatlah anak-anak jalanan di tengah asap kendaraan bermotor. Mengamen, meminta, menjajakan dagangan di tengah kebengisan kota. Anak-anak itu juga masih bisa tertawa ceria dengan cara mereka sendiri. Jika kita mau melihat lebih jauh, anak-anak di desa juga ceria bermain-main di pematang sawah, anak-anak pantai bahagia berkejaran dengan ombak. Begitupun dengan anak-anak pengungsi Merapi yang berusaha tersenyum di tengah keresahan menunggu Merapi tenang. Yah, setiap anak punya cara tersendiri untuk tetap ceria, walau terkadang keadaaan memaksa tawa mereka terhenti sesaat.

Itulah kenapa lebih suka kuhabiskan waktuku dengan anak-anak. Menyongsong senja untuk berbagi ilmu, berbagi keceriaan bersama anak-anak TPA Mahameru. Dan menghabiskan minggu siang di Taman Ciracas bersama anak-anak yang terancam penggusuran sejak tahun 2009.

Uff..dua tempat dengan kondisi yang berbeda. TPA Mahameru, dihuni oleh anak-anak dari lingkungan yang tergolong aman, walau kondisi ekonomi orang tua mereka menengah ke bawah. Dikelola oleh seorang kawan yang memiliki kepedulian akan pendidikan anak-anak. Bukan hanya sekedar pendidikan formal, tetapi pendidikan yang mengedepankan pengembangan karakter. Hingga anak-anak yang awalnya tidak mengerti huruf hijaiyah, dengan pasti mengalami kemajuan dalam membaca Al Quran. Perubahan sikap dan sikap kearah yang lebih baik pun terlihat nyata. Di Mahameru, ketika aku datang, ku dapatkan anak-anak yang telah bersikap sangat menyenangkan.

Mahameru..

 

… continue reading this entry.

“..Sang Angin..”

Aku mendengar nyanyianmu kala menjejakkan kaki di ketinggian

Mendamaikan benak  yang penat pada kehidupan

Menyendiri dalam ruang tanpa kemunafikan

Berharap gemintang bersinar membawa secercah harapan

Hingga semua menjadi satu keniscayaan

… continue reading this entry.

Semua Tentang Kau..

Kuantar kau ke bibir pantai berhampar pasir hitam

Berharap gulungan ombak datang menghantam

Melerai tapak-tapak kenestapaan mendalam

Setelah berkali kau coba menghadapi harapan yang mulai kelam

Dan mencari kepingan tawa di bawah cahaya bulan temaram … continue reading this entry.

Penghujung Desember..

Di penghujung desember waktu perlahan merangkak

Meninggalkan detik yang takkan terulang

Menghampiri masa penuh harap

Terbebas dari mimpi buruk

Tuk berlari menyambut impian

 

Di penghujung desember yang sunyi

Ku terbaring di bawah langit kelam … continue reading this entry.

Aku, kau dan dia..

Aku, kau dan dia..

Dipertemukan diatas tanah yang menanjak

Mencari tempat berpijak dan memantapkan kaki untuk melangkah

Bersama menghangatkan diri diantara bara unggun

Menghalau dinginnya lembah Surya Kencana

Mewangi diantara edelweiss yang tengah merekah … continue reading this entry.

Antara hakikat dan rasa..

Siang menjadi gelap oleh awan kelam

Dinginnya angin desember membawa rinai hujan

Untuk sesaat matahari mengalah, bersembunyi

Membiarkan sang hujan menyegarkan bumi

Tanpa ada pertengkaran

Sesuai hakikat penciptaan mereka

Tiap titik hujan kunikmati dalam dengar

Belaian angin kunikmati melalui ari

Aliran udara kunikmati dengan hirup

Kelamnya langit kunikmati dengan pandang

Dan kau kunikmati lewat rasa … continue reading this entry.

Sesungguhnya Bumi Bukan Milik Manusia

Bagaimana kami bisa membeli dan menjual langit, serta hangatnya tanah? Gagasan seperti itu asing bagi kami. Jika kami tak punya segarnya udara dan gemericiknya air, bagaimana kami bisa membelinya?. Setiap bagian dari bumi adalah sakral bagi kami. Setiap kilau pucuk pohon pinus, setiap pantai berpasir, setiap embun di pepohonan, setiap dengung serangga adalah suci dalam ingatan dan pengalaman rakyat kami. Cairan yang mengalir dalam setiap pohon membawa ingatan orang-orang kami. Inilah yang kami tahu: bumi bukan milik manusia, manusialah milik bumi. Inilah yang kami pahami. Semua hal berhubungan seperti darah yang menyatukan sebuah keluarga. Semua hal berhubungan. (Sebuah pidato dari ketua suku Indian Suquamish di Amerika pada tahun 1848)

 

Kutipan pidato dari ketua suku Indian Suquamish di Amerika puluhan tahun silam diatas menyiratkan kecintaan yang begitu mendalam pada bumi. Lalu bagaimana perasaan kita sebagai manusia yang hidup di era modern ini pada bumi? … continue reading this entry.

Tangisan persahabatan..



“Ka Anez…Ka Anez…”

Setengah tertidur aku mendengar panggilan itu pagi ini. Tentu saja bukan aku yang dipanggil, namun nama sahabatku yang kini sedang jalan-jalan ke Kepulauan Seribu. Namun, aku mengenali suara itu. Suara anak-anak TPA Mahameru. Bergegas aku mengenakan jilbab dan keluar. Di luar sudah menunggu Widya, Novi, Sari, Oji, Rival dan dua teman mereka, Anis dan Iwan. Mereka sebenarnya hendak ke UI. Karena hujan tiba-tiba turun, mereka mampir untuk berteduh.

Begitu masuk, mereka langsung minta bermain internet, terutama bermain facebook. Saat ini, beberapa anak Mahameru sedang kecanduan internet, terutama facebook dan game online. Kubuka Zenith Fikriansyah (nama Laptopku) dan kukoneksikan dengan internet. Tak langsung kubuka facebook untuk mereka. Namun kujelaskan kegunaan internet lain, selain untuk facebook dan game online.

Selama anak-anak perempuan membuka internet, aku mencoba mendekati rival, anak kelas 5 SD yang sedang benar-benar ketagihan internet. Karena dia adalah salah satu anak yang menghabiskan sebagian waktu dan uang sakunya untuk pergi ke warnet. Bahkan beberapa kali dia tidak datang mengaji di Mahameru  hanya untuk ke warnet. Tingkah laku Rival dan beberapa anak lain membuat Ka Gianto, pendiri Mahameru, memanggil mereka setelah pengajian selesai beberapa waktu lalu. Dia menasehati dan memberi peringatan pada anak-anak agar tak lagi mengulangi perbuatan mereka. … continue reading this entry.

« Entri lama
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.